Cerpen Singkat : SAHABAT SELAMANYA

Cerpen Singkat : SAHABAT SELAMANYA

Pagi hari yang begitu cerah dengan udara sejuk serta cahaya lembut masuk ke kamar gadis cantik yang sedang asyik bermimpi seolah membangunkan tidurnya. 

Tak lama kemudian terdengar gedoran pintu kamar diiringi teriakan ibu yang terus memanggil nama anakmya seakan seperti alarm yang setiap hari membangunkannya, membuat gadis itu terbangun dengan malas, dengan suara serak, ia menjawab "iyaa sebentar mah". 

Gadis bernama Ariva rachelyana bangkit dan mengucek matanya berulang kali, kini matanya jatuh pada seragam sekolah yang tergantung di almari. "Astaga" Ariva menepuk keningnya sendiri lalu melihat jam dinding yang menandakan sudah pukul 05.30. 

Ariva beranjak dari ranjang sigap meraih handuk dan berlari ke kamar mandi. Setelah mandi ia bergegas mengambil seragam barunya, Ya sekarang adalah hari pertama Ariva masuk ke sekolah menengah atas. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 06.15 ia buru-buru memasukan alat tulis kedalam tas, dan bergegas ke bawah.

Sely kaget melihat anaknya buru-buru memakai sepatu, “Sayang kamu ngga sarapan dulu?!.” Seru Sely. Sely adalah ibu dari Ariva, “yahh, ma. aku udah telat nih!”. "Ayo sarapan dulu sebentar ,lagi pula masih jam segini kok." Ariva menuruti perkataan ibunya, dia mengigit roti isi keju dan meneguk susu.

“Ma, Ariva berangkat sekarang aja yaa?.” ucapnya dengan mulut penuh makanan

“Loh kan belum selesai sarapan?!”

“Udah kok , ini dah habis roti sama sususnya, Paling nanti juga jajan lagi kok di kantin.”

“Oh ya udah, Tapi inget ya, kalo jajan jangan asal-asalan, dan kamu kan anak baru jadi jangan buat masalah disekolah.”

“Asiapp bos. Yaudah Ariva pamit dulu ya,ma. Ayo pak Doni kita berangkat Sekarang!.” pak 

Doni adalah supir barunya. Ya, karena dulu waktu masih duduk di Sekolah Menengah Pertamanya, Sekolah itu dekat dengan kantor ayahnya sehingga tidak perlu ada supir yang mengantarkannya waktu itu.

“iya udah hati hati di jalan ya”

Ariva telah sampai di depan gedung yang tinggi di depannya terdapat gapura bertuliskan ‘Selamat datang di SMA HARAPAN BANGSA’. Entah kenapa jantungnya berdebar kencang.

Ariva melangkahkan kakinya dengan perasaan gugup perlahan ke dalam sekolah, dia bingung harus kemana sementara belum ada pembagian kelas, dan lebih parahnya lagi teman-teman akrabnya sewaktu duduk di bangku smp tidak ada yang mendaftar sekolah disini. Alhasil Ariva hanya bisa duduk di pinggir lapangan sendirian sambil menunggu instruksi dari osis.

Sebenarnya banyak sekali siswa baru di sekitarnya tetapi dia enggan untuk berkenalan karena mereka sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing. berbeda dengannya, ia malah melamun memikirkan 'apakah Masa-masa SMA akan lebih asik dibandingkan masa SMP'. 

"Perhatian, Masa Pengenalan Sekolah akan segera dimulai seluruh siswa baru harap berkumpul di ruangan yang sudah disediakan, terimakasih".suara ketua osis terdengar di seluruh penjuru sekolah melalui speaker yang biasanya digunakan untuk memberi informasi oleh warga sekolah. 

Suara ketos itu pun membuat Ariva tersadar dari lamunannya. Setelah berada di ruang itu, Seketika ada yang menepuk bahunya dari belakang, ia terkejut. “Della?!”seru Ariva, “Haii, kamu ternyata sekolah di sini juga?, aku seneng bangat loh kalo kita satu sekolah lagi” Jawab Della yang langsung memeluk Ariva. 

Della adalah teman dekatnya waktu SD, “iya Dell , aku juga seneng banget, apalagi kalau kita satu kelas”. Iya semoga aja kita satu kelas”.

Setelah 5 jam berlalu, para siswa masih berada pada posisinya masing-masing. Mereka masih mendengarkan intruksi dari osis, tapi berbeda dengan Ariva yang merasa bosan dan mengabaikan ceramah dari pengisi acara.

Matanya berkelana melihat orang-orang yang ada di ruangan itu. Tanpa disadari ternyata ia sedang di pandang seorang yang tidak ia kenal. Pandangan mereka bertemu, dia malah menyapa dengan senyuman yang membuat pipi Ariva kemmerahan dan ia langsung mengalihkan pandanganya. 

Tettt...tettt...tett... Bel menandakan sekolah telah berakhir. Ariva berjalan menuju depan gerbang sekolah bersama Della. Setelah mereka lama menunggu, akhirnya Della dijemput ayahnya. Della mengajaknya untuk pulang bersama, tetapi Ariva menolak ajakan Della karena kemungkinan pak Doni sedang menuju ke sini. 

Setelah menunggu beberapa menit ibunya menelpon mengabari bahwa pak Doni tidak bisa menjemputnya karena mobil kehabisan bensin di jalan. Ibu memerintahnya untuk pulang menaiki kendaraan umum saja. 

Tiba-tiba terdengar suara montor dari belakangnya. Tak disangka dia adalah orang yang tadi memandangya. “kamu belum di jemput?” tanyanya, “ii iya belum” Ariva menjawab dengan terbata-bata. “yaudah ayo ikut aku aja, oyya lupa, kenalin namaku Dzaki Rayhan Alfaro, biasa di panggil zaki” sambil mengulurkan tangannya. 

“Salam kenal juga namaku Ariva Rachelyana, biasa dipanggil Riva”. “yaudah yuk cepetan naik, lagian ini dah mendung banget”, “gak ah, aku nunggu angkot lewat aja” sambil melihat kanan kiri jalan yang sepi. “kamu yakin? Jam segini mana ada angkot lewat”. 

Ariva bingung, sementara benar kata zaki dari tadi ia tidak menlihat satu angkot pun yang melintas. Dengan keputusan bulat ia mau membonceng zaki dari pada dia sendiri di depan sekolah apalagi seebentar lagi mau hujan. 

Akhirnya 3 hari sudah ia lewati. Masa pengenalan sekolak pun sudah selesai. Sekarang tinggal menunggu pembagian kelas, Ariva dan Della berharap sekali mereka bisa satu kelas. Tak lama kemudian ada pengumuman tentang pembagian kelas.”perhatian, kelas sudah di bagi, siswa baru silahkan bisa mengecek di depan perpustaan sekolah”. 

Della langsung tidak sabar dan menarik tangan Ariva ke depan perpustakaan. Tak disangka Ariva satu kelas dengan Della yaitu di kelas X Mipa 2. Di dalam kelas Ariva memilih duduk di pojok kiri kelas, dia melamun memikirkan ‘bisa bisanya dia sekelas dengan zaki’.

“Riv...” panggil Della dengan menepuk bahunya dan mebuyarkan lamunan nya.

“Eh apa?!” balas Ariva dengan refleks karena terkejut membuat Della menyerngit heran. 

“Lo melamunin siapa sih, sampe duduk di pojok segala, mikirin doi ya?” sambil ketawa berbahak bahak dan membuat 3 orang di depanya menyelinguk ke belakang.

“Ih apaan sih, sok tau lo Dell”. “Hai” 3 orang itu dengan serentak menyapa Ariva dan Della.”Hai juga” jawab Rifa dan Della. Mereka berlima akhirnya memperkenalkan diri, 3 orang itu bernama Melisa, Dinda dan Ayu mereka juga baru kenal satu sama lainya.

Tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi, Ariva melihat Zaki memasuki kelas, Tak disangka ia malah duduk di dekat bangkunya. Mata Pelajaran pertama adalah Bahasa Indonesia, ibu guru memberikan tugas kelompok agar mereka lebih akrab. 

Karena jumlah siswa di kelas X Mipa 2 ada 36 siswa, ibu guru membagi menjadi 4 kelompok berarti 1 kelompok berjumlah 9 orang. 

Della langsung mengajak Ayu, Dinda dan Melisa terutama Ariva mereka baru 5 orang dan sepertinya yang lain sudah memiliki kelompok, dan mereka bingung mau mengajak siapa lagi. “plak” tabokan meja yang membuat kaget Ariva dan teman-temanya yang sedang berunding, “Zaki!” seru Riva karena refleks kagetnya. 

“Hehee, ya maap kalo kaget, Aku gabung kelompok kamu boleh gak?”. Ariva bingung mau berkata apa, sementara anehnya zaky selalu ada di sisinya, “loh kalian udah kenal” tanya della kepada Zaky dan Ariva. “Iya udah” jawaban serentak dari mulut Zaky dan Ariva. Cie...ciee Della dan yang lain meledek Ariva karena mereka kompakan. 

“Udah udah, jadi gimana nih boleh nggak gabung kelompok kalian”

“Boleh dong, tapi kita masih kurang 3 anak lagi nih gimana? 

Mata Zaky berkelana di ruang kelas dan tiba-tiba dia pergi menghampiri 3 anak laki-laki yang sedang santai duduk di bangkunya. Dan ternyata mereka sedang menunggu teman yang mau mengajak mereka bertiga berkelompok.

Dan akhirnya Dito,Riyan dan Jaka bergabung dengan kelompok Ariva, sekarang kelompok mereka sudah lengkap, tinggal berunding dimana mereka akan berkerja kelompok. 

“bagaimana kalau di rumahku saja,soalnya beberapa hari ini ibuku sedang sakit jadi tidak mungkin aku meninggalkannya sore hari di rumah”. 

“yaudah aku setuju kalau di rumah Ayu, lagi pula kan rumah Ayu berada di tengah, kalau kalian gimana setuju gak?”seru Melisa. “Iya setuju”serentak mereka.

Jam menunjukkan pukul 15.00, Ariva sudah siap untuk ke rumah ayu, tiba tiba ibu memanggil “Sayang, cepet turun itu ada temanmu di depan”. “iya ma, Suruh dia tunggu sebentar”, ya dia adalah Della yang berjanji akan menjemput Riva. 

Tak disangka dengan kelompokan begini, mereka cepat akrab. Mereka bersepuluh merasa nyaman berteman dan setelah itu mereka ber-10 memilih menjadi sahabat tuk selamanya. 

Mereka bahkan menikmati liburan sekolah bersama, dan waktu itu mereka berbincang bincang tentang pacaran lalu tiba-tiba Dito berkata “bagaimana kalau diantara kita nanti ada yang jatuh cinta?” lalu Melisa membantah “Tidak bisa yang namanya sahabat tetap sahabat”. 

Sementara Ariva dan Zaki menyebunyikan perasaan yang sama. Karena di dalam persahabatan, mereka berjanji tidak akan berpacaran ke sesama sahabat sendiri. Tetapi perasaan Zaki kepada Ariva tidak bisa dipendam begitu sebaliknya dengan Ariva. 

Dan akhirnya pada waktu jam istirahat Zaki mengajak Ariva ke taman untuk mengungkapkan perasaanya. Dan akhirnya Ariva menerima permintaan Zaki menjadi pacarnya, tetapi mereka sepakat untuk tidak menjelaskan hubungannya. Karena mereka tidak mau mengecewakan sahabat sendiri. 

Sehari hari mereka hanya berhubungan lewat chat dan seperti biasanya hanya bisa memandang satu sama lainnya di kelas. Perilaku Zaki dan Ariva dicurigai oleh sahabat-sahabat mereka. 

Dan lama-lama hubungan mereka diketahui sahabatnya. Mereka berdua kepergok berduaan sedang bermesraan di taman, dan sahabatnya pun sangat kecewa karena mereka malah menyembunyikan hubungan mereka. Hari demi hari Zaki dan Ariva dijahui sahabatnya itu. 

Zaki dan Ariva juga membuat perjanjian untuk mejaga jarak terlebih dahulu. Ini memang sungguh berat tapi bagaimana lagi, mereka mengiginkan persabatannya kembali.

Pada keesokan harinya Sahabatnya itu biasa sedang berkumpul di pinggir lapangan, dan Jaka melihat Ariva yang sedang mengintip di jendela kelas memperhatikan Zaki yang sedang bermain basket di lapangan dan juga memandangi sahabatnya ini.

Saat itu ia sadar bahwa sahabat itu jatuh bersama senang juga bersama dan dia menyampaikan itu kepada sahabat lainya. Lalu Jaka menemui Zaki yang sedang bermain basket dan Della dan temannya tersadar apa yang dikatakan Jaka benar, Mereka langsung ke kelas dan meminta maaf kepada Ariva bahwa semua itu salah seharusnya sahabat itu susah senang bersama maka persahabatan ini tidak boleh berakhir

“Bentar malam kita jadi kan kumpul di rumahku?” kata ayu. “Iya dong jadi” seru Della Saat di rumah Ayu mereka berbincang bincang dan tiba tiba Della berbicara “karena kalian sudah kumpul di sini, saatnya kita mengutarakan perasaaan masing2. “Iya saya juga sebenarnya suka kepada Della, dan saya tau dia juga memiliki perasaan yang sama kepada saya, tapi kita lebih memilih menjadi sahabat” dan ternyata mereka juga ada yang sama. 

Akhirnya mereka tetap bersahabat untuk selamanya walau ada hubungan diantara mereka itu bukanlah menjadi masalah.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1